senja terakhir Layonsari


Senja Terakhir Layonsari

Pagi ini terasa dingin dan mendung. Orang-orang berpakaian serba  hitam membawa rangkaian bunga masuk kedalam rumah duka. Sesekali mereka menangis dan mengusapkan air mata. Berpelukan dan mencoba menenangkan keluarga yang ditinggalkan.

Dari dalam rumah terlihat seorang gadis cantik menangis tanda tak rela ditinggalkan sang bunda. Sang kuasa rupanya telah memanggil ibu dari anak ini untuk berada disisinya selamanya.

Pemakaman telah usai. Raga sang bunda terkubur didalam bumi dan jiwanya terbang ke angkasa luas memenuhi panggilan Sang kuasa. Layonsari masih tetap menangis, masih belum menerima bundanya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Terkadang ia kehilangan keseimbangan.

“Sari, ayo kita ke mobil” ajak Dani pada adiknya. Di peluknya sang adik lalu menuntunnya ke mobil dan pulang.

###

Sudah 2 minggu lebih 5 hari semenjak hari kepergian bundanya, Layonsari masih tak mau keluar kamar. Gadis itu terus diam, sesekali menangis sembari melihat jendela, berharap bundanya masih disisinya. Dani dan Ayahnya hampir putus asa dengan gadis ini, mereka terus mencoba mengembalikan senyum indah Layonsari yang memperlihatkan kedua lesung pipinya. Sangat cantik, namun lesung pipi yang indah itu seperti menghilang.

Tok tok tok “Sari Ayah masuk yaa?” ayahnya menunggu jawaban, namun tak ada jawaban. Karena khawatir Ayahnya langsung mendobrak pintu yang terkunci itu. Terlihat tubuh lemas tak berdaya tergeletak dilantai, sontak ayahnya menggendong membawanya turun. “astaga Yah, Sari kenapa?” tanya Dani yang baru saja pulang dari kampus bingung melihat adiknya tak sadarkan diri dalam gendongan ayahnya. “cepat kamu yang nyetir mobilnya, ayah yang temani dia dibelakang”, segera Dani mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.

Dani mondar-mandir didepan salah satu ruangan di Instalansi Gawat Darurat, sesekali duduk, lalu berdiri dan berjalan lagi. Ayahnya sedang duduk terlihat sangat khawatir dengan putrinya, berdoa semoga anaknya sehat. Tak lama kemudian seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut.

“pak dokter, bagaimana keadaan adik saya?” dani langsung bertanya mendahului ayahnya.

“mari kita bicarakan diruangan saya” ajak dokter itu. Setelah bebarapa saat berunding dan berkonsultasi Dani pun keluar dan langsung menemui adiknya, sedangkan ayahnya mengurus regristasi dan penempatan kamar rawat inap untuk Layonsari.

Tak beberapa lama Layonsari sadar, membuat kakaknya tersontak kaget.

“akhirnya kamu sadar juga,”

“ayah mana kak? Aku dirumah sakit ya?”

“ayah sedang mengurus registrasi kamar, sebentar lagi kamu akan pindah ke ruangan VIP,”

“ohh ”

Tak lama kemudian, ayahnya datang dengan beberapa perawat yang membawa tempat tidur dorong untuk memindahkan pasien. Layonsari lalu dipindahkan kekamar vipnya.

Setelah dipindahkan, Sari langsung terlelap dalam tidurnya, lelah mungkin karena memikirkan hal yang menimpa dirinya.

“ayah, dalam kondisi Sari seperti ini ayah yakin ingin pergi selama 2 tahun?” tanya Dani

“ayah harus yakin dani” sahut ayahnya murung

###

“ayah apa harus pergi?” tanya sari sambil memeluk ayahnya dibandara, sekarang ayahnya harus . “hahaha, ayah harus sayang” sahut ayahnya

“ayah, cepat pulang yaa?” kata Layonsari lagi pada ayahnya

“pasti Sari,,, oh iya Dani kapan kamu mulai praktik?”

“sekitar 3 hari lagi ayah, aku ditugaskan di pulau XXX”

“baiklah, nanti e-mail alamat kamu ke ayah ya? Biar nanti kalo ayah pulang ayah langsung mampir”

“pak kalianget, mari saya antar kedalam” tiba-tiba seorang teman kantor Ayah mereka datang untuk pergi juga ke London. Sambil melambaikan tangannya Layonsari menahan tangisnya.

“ayo kita pulang kak”

###

“kak aku sudah siap” kata Layon sari yang sudah selesai mengepak barang-barangnya. Hari ini kakaknya ditugaskan untuk menjadi dokter disuatu pulau. Hidungnya berdarah lagi, dia mimisan lagi. Secepatnya ia meraih tissue dan pergi kekamar mandi. Akhir-akhir ini hidungnya sering mengeluarkan darah. Namun ia tak ingin kakaknya khawatir , jadi Layonsari tak memberitahu kakaknya.

“sudah semua kan? Kamu sudah minum obat?” tanya Dani,

“sudah”

“tak ada yang terlupa?” ,

“enggak”

“ayo berangkat”

Sekitar 8 jam perjalanan, setelah beberapa kali menyeberangi beberapa pulau, akhirnya mereka tiba di suatu pulau. Sebuah pulau indah dengan kota yang modern dengan gedung-gedung tinggi nan mewah disetiap jengkal kotanya. Majunya perekonomian di daerah ini menyebabkan para penduduknya terlihat sangat mampu dan sejahtera. Meskipun terlihat sangat modern namun kota ini tetap pada budayanya.

Panorama indah dan lingkungan yang bersih membuat pulau ini semakin menawan. Terlihat banyak turis mancanegara dan pejalan kaki di setiap sudut pulau ini menandakan majunya pariwisata yang ada di pulau ini. Mata Layonsari tak kunjung puas melihat panorama yang ada. Begitu indah.

Setelah lama mencari alamat, akhirnya mereka tiba didepan sebuah gedung apartemen 4 lantai, tidak begitu lusuh dan tidak begitu megah. Mereka mendapatkan apartemen nomor 7 yang terletak di lantai 2. Ruangan apartemen mereka terdapat 2 kamar tidur dengan masing-masing kamar mandi, dapur, ruang tamu, ruang televisi dan ruang mencuci baju serta satu balkon. Setelah berbagi kamar, dan meletakkan barang-barang. Mereka segera beristirahat.

Keesokan harinya.

“kak, aku sudah siap” kata Layonsari pada kakaknya dan membantu kakaknya mengancing lengan kemeja kakaknya. Diantarnya layonsari kedepan Universitasnya. Tampak mahasiswa-mahasiswi baru ramai memasuki universitas itu.

“kau siap? Perlu kujemput?”

“tidak usah menjemputku, aku ingin melihat-lihat kota ini sebentar sepulang sekolah”

“belilah peta. Jangan sampai larut, oh iya, aku belom memberitahumu mulai hari ini tempat praktekku di blok C nomor 210. Mampirlah bila kau sempat”

“baiklah”

Pada saat berkeliling Universitas mencari kelas yang harus dihadirinya, Layonsari mendapat seorang teman laki-laki bernama Jaya prana dan seorang teman perempuan bernama Vika. Mereka mengikuti beberapa mata kuliah yang sama. Hal ini membuat mereka semakin akrab. sepulang sekolah mereka pergi ke tempat-tempat wisata menggunakan mobil Jayaprana.

“ahhh aku lapar. Kita makan yuk, kamu mau makan apa Jaya?” tanya vika

“aku ingin makanan korea”,

“sari. Kau ingin makan apa?”

“aku ikut kalian saja”

“kau selalu pasrah ya? Hahaha”

Mereka lalu memutuskan mencari sebuat kedai makan yang indah

Tidak sampai 5 menit mereka berhenti didepan Choi’s resto, sebuah restoran korea yang tidak begitu besar. “katanya makanan disini enak-enak” kata Jayaprana sambil mengecek alarm mobilnya. Vika, layonsari dan jayaprana pun masuk kedalam resto. Dan memesan samgyupsal, sebuah makanan korea dimana pelanggan hanya diberi daging segar yang mentah, dan memasak sendiri menggunakan kompor kecil dan hotplate, selain daging mentah, menu ini juga menyediakan nasi, mushroom, daun lettuce. Cara makannya pun unik, mushroom dan daging di panggang sedangkan daun letuce dimakan dengan cara, membungkus nasi dan daging yang sudah dimasak lalu dimakan bergitu saja.

Sambil menunggu mereka pun mengobrol dan menceritakan tentang diri mereka masing-masing. tak beberapa lama akhirnya pesanan mereka tiba.

“ini, gimana cara makannya kalau mentah-mentah?” tanya Layonsari. Sambil berlatih memegang sumpit. Vika tertawa melihat tingkah Layonsari lalu mengajarinya.

Tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiri mereka, tinggi, stylish dan tampan. Gayanya hampir sama seperti Jayaprana, mungkin temannya, pikir Layonsari dan kembali sibuk dengan sumpitnya. Ternyata benar, pemuda itu langsung menjabat tangan Jayaprana dan mereka saling tosh.

“sob, kapan kau pulang?” tanya Jayaprana sambil menjabat tangan pemuda itu.

“kemarin lusa, hey lihat dirimu, kau mengikuti gayaku ya? haha”

“enak saja, ini gayaku. Kau masih saja pede”

“eehhmm” Vika berdehem. Sepertinya dia sudah terlalu lapar untuk menunggu kedua sahabat itu saling melepas rindu.

“oh iya, perkenalkan ini Layonsari dan ini Vika, Layon Sari, Vika, ini saunggaling, dia baru pulang dari California, oh iya dia satu universitas dengan kita lho”

“hai, aku Sari” , “dan aku Vika” kata mereka bergantian lalu bersamaan berkata “salam kenal”. Cantik sekali, pikir saunggaling sambil terus melihat Layonsari

“salam kenal, oh iya, boleh aku gabung?” tanya Saunggaling pada mereka bertiga. Namun mereka bertiga menunjukan wajah kaget seperti tidak ingin menerimanya dikursi itu. “tenang, aku akan tambah porsi nya dan aku yang traktir” Saunggaling langsung membaca keadaan, Layonsari, Jayaprana dan Vika sudah terlalu lama menunggu untuk makan. Merekapun duduk berdampingan. Semuanya tertawa melihat Layonsari yang bingung dengan makanan itu.

“ini pertama kalinya pakai sumpit ya?” tanya Saunggaling pada Layonsari yang dari tadi terlihat sibuk memposisikan sumpitnya. “eh i. i. iya” jawab Layonsari kikuk. Saunggaling pun mengajarinya memegang sumpit dan makan daun lettuce. Dibuatkannya layonsari Lettuce yang sudah membungkus nasi dan daging yang sudah makan, lalu disuapkan. Namun layonsari meminta untuk memakannya dengan tangannya sendiri, “orang korea kalau membuatkan temannya lettuce harus menyuapi temannya. Sudah buka saja dan makan” kata saunggaling sambil tersenyum.

Melihat kejadian ini Jayaprana gelisah. Astaga, kenapa detak jantungku cepat sekali, kenapa juga aku kesal melihatnya. Aahh ada apa denganku?! Pikir Jayaprana. Pandangannya sama sekali tidak lepas dari saunggaling dan layonsari yang asyik berdua. Ia kebingungan dengan perasaannya sendiri, seperti tak ingin melihat layonsari tersenyum dengan pria lain.

Setelah sekitar 2 jam makan dengan 2 porsi, mereka pun segera berangkat pulang kerumah masing-masing. saunggaling pergi dengan mobilnya, Jayaprana, Layonsari dan Vika pun pulang juga.

“thanks uda nganter ya, oya antar Sari sampe selamat, dia uda mabuk tuh, mabuk cintanya saunggaling, haha” kata Vika sambil melambaikan tanganya.

“apaan sih Vika” jawab Layonsari sambil melambaikan tangannya juga ke Vika, lalu mereka melanjutkan perjalanan.

“kita kemana?” tanya Jaya prana.

“ah bisakah kita ke blok c sekarang? Aku ingin mengunjungi kakakku” kata layonsari sambil memegang kepalanya.

“kau sakit?”

“ah tidak. Hanya sedikit lelah, akhir-akhir ini aku semakin cepat lelah”

“istirahatlah sekarang, blok c masih 10 km lagi”

“tidak, aku akan menemanimu menyetir”

Menit- demi menit berlalu. Kesunyian telah hinggap dimobil itu. Entah kenapa mereka tak bisa mengeluarkan suaranya.

tiba-tiba darah menetes dari hidung layonsari. “ahh, berdarah lagi”

jayaprana terkejut, ia langsung memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dan meraih tissue, membantu Layonsari memberhentikan darahnya.

“astaga kamu kenapa ri?”

“engga apa-apa kok, mungkin Cuma kecapaian”

“kita kedokter, atau gimana?”

“nggak usah, nggak apa-apa kok,  kita jalan aja lagi”

Jayaprana menurut dan kembali melanjutkan perjalanan. Hingga tiba di tempat praktik kakaknya.

###

    Sudah 3 minggu ini, Layonsari lemas tak karuan, mukanya pucat pucat pasi. Ia pun semakin sering mimisan dan tubuhnya lebam-lebam. Ia bingung apa yang terjadi pada dirinya. Ia memang belum memberitahu kakaknya, karena ia berpikir “ini hanya anemia biasa”.

2 minggu ini ia semakin dekat dengan pemuda bernama Saunggaling. 2 minggu ini pun Jayaprana menjadi aneh. Ia bertingkah seperti Layonsari istimewa. Layonsari semakin bingung dengan apa yang dilakukan oleh 2 pemuda itu terhadap dirinya. Setiap hari, semakin aneh.

Hari ini Saunggaling mengajaknya kencan dan Layonsari mengiyakan. Sepertinya layonsari semakin mengerti apa yang di inginkan Saunggaling dari dirinya. Mereka berjanji akan bertemu di depan tempat praktik kakaknya. Hari ini Layon sari tidak begitu berdandan. Ia hanya mengenakan baju kaos belang hitam-putih lengan panjang dan jins panjang ciut di temani tas khasnya, selimpang putih-biru dan dihias knip coklat, rambutnya pun di urai biasa saja. Casual namun tetap cantik.

“jaga adikku baik-baik, awas kau kalau sampai terjadi apa-apa,” ancam Dani

“sipp kak”

Saunggaling mengajak Layonsari ke Meijin Park. Salah satu tempat bermain dengan banyak wahana. Hari ini hari minggu, jadi Meijin Park sedikit ramai dengan keluarga, couple dan anak-anak ramaja didalamnya.

Saunggaling dan layonsari awalnya canggung. Mungkin karena hari ini mereka bersama sebagai calon pasangan, bukan sebagai teman. Namun suasana itu hilang setelah Saunggaling yang mengajak Layonsari bermain beberapa wahana disana. Setelah puas bermain mereka beristirahat di caffe Meijin yang ada didalam taman bermain itu. Mereka canggung kembali karena suasana caffe yang romantis.

Saunggaling memanfaatkan keadaan itu. Ia bediri dan memindahkan tempat duduknya disamping Layonsari, ia pun mengambil bunga mawar merah yang ada di tasnya lalu berkata “will you be my girl?”. layonsari pun tersipu, diambilnya bunga mawar itu dan mengangguk.

“i will”

bersambungg..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s